Kamis, 08 Mei 2014

Ayah Tukang Batu

AYAHKU TUKANG BATU

Seorang ayah tanpa sengaja mendengar percakapan sang istri
yang tengah menasehati anaknya yang merasa rendah diri karena
ayahnya hanya seorang tukang batu (kuli).

“Nak, apakah kamu tau ? bagaimana gedung-gedung bertingkat dan
apartemen mewah itu bisa berdiri ? jalan tol dan jembatan layang bisa dibangun ? pelabuhan dan bandara bisa di gunakan ?
semua membutuhkan orang-orang seperti ayahmu untuk
mengerjakannya, memang ada para pengusaha dan investor untuk
membiayainya. ada arsitek dan desain interior yang merancangnya, juga ada para manager dan
mandor yang mengawasi jalannya pekerjaan itu, tapi tanpa ada orang-orang seperti ayahmu
yang menggali tanah, mengaduk pasir dan semen, menyusun batu
kali untuk jadi fondasi kemudian menjadikannya sebuah tembok kokoh yang tidak mudah ambruk, semua impian mereka tidak akan
terwujud tanpa orang-orang seperti Ayahmu.” ungkap si ibu
kepada putranya.

“Di setiap rumah sakit, bank, gedung perkantoran, terdapat sidik jari dan butiran keringat ayahmu
yang melekat di dinding banguna itu.” lanjut sang ibu dengan penuh
kasih sayang.

Si anak kemudian menghampiri dan memeluk ibunya sambil berkata,
“terima kasih ibu, engkau telah membuat saya percaya diri dan bangga mempunyai ayah seorang
tukang batu..”

Si ayah yg mendengar
percakapaan mereka kemudian masuk dan berkata kepada mereka
“terima kasih kalian telah membuat hidup ayah sangat berarti” kata si
ayah sambil menyeka air matanya.

*****

semua orang bangga dengan pekerjaannya selain itu yang lebih
penting lagi, ”Dunia tidak menuntu kita /kamu/anda untuk menjadi
seorang arsitek/ presiden/politikus/DPR/ilmuwan, ect.

“Untuk kebahagiaan, Dunia hanya menuntut kita agar menjadi
seorang yang terbaik pada apapun yang anda kerjakan, apapun profesi dan pekerjaan kita, yang penting HALAL, lakukanlah dengan
penuh suka cita dan rasa bangga..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar