KISAH NYATA PENGORBANAN LUAR BIASA SEORANG IBU KEPADA ANAKNYA ..
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim .. Sebuah kisah nyata yang membuat miris
setiap pembaca dan pendengar dimana saja berada. Seorang wanita yang
mulai tumbuh dewasa, akhirnya mendaftarkan diri menjadi seorang
mahasiswi di salah satu kampus kota Malang. Sebagai orangtua, tentu saja
berbahagia atas apa yang capai oleh putri tercintanya. Khususnya sang
Ibu, selalu memberikan yang terbaik untuk putra-putrinya.
Sang
Ibu-pun memulai memberikan pesan-pesan moral kepada putrinya agar
senantiasa menjaga diri. Kewajiban orangtua adalah selalu memberikan
bekal materi, nasehat dan do’a. Salah satu pesan seorang Ibu kepada
putri tercintanya adalah, jangan keluar malam, belajar sungguh-sungguh,
jangan berpacaran. Karena yang demikian itu sama dengan menyakiti dan
melukai hati kedua orangtua, serta melanggar ajaran Rosulullah SAW.
Mendengar petuah sang Ibu, mahasiswi itu manggut-manggut, sebagai bukti
bakti seorang anak kepada kedua orangtua. Orangtua memang memiliki hak
penuh atas anak-anaknya. Wajar, jika kemudian seorang Ibu berpesan
demikian kepada putrinya, serta anak-anaknya semua.
Ketika sudah
menjadi mahasiswi, dimana kehidupan dunia kampus begitu panas dengan
dunia percintaan dan pacaran. Lelaki dan wanita sudah biasa
bersama-sama, walaupun belum menikah. Bahkan, berdua-duaan sampai malam
larut tidak menjadi masalah, walaupun mereka tahu kalau hal itu dilarang
agama dan juga melukai hati kedua orangtuanya.
Ketika di
ingatkan orangtuanya, atau saudara-saudaranya mahasiswi itu selalu
menjawab:’’aku tidak pacaran, aku cuma teman biasa…! Padahal semua orang
tahu, kalau dirinya itu berpacaran dan telah menodai agama dan petuah
orangtuanya.
Setiap hari, mahasiswi ini selalu menampakkan sikap
yang tidak patuh kepada Ibunya. Padahal sang Ibu pontang panting mencari
duit untuk biaya kuliah dan uang saku. Ratusan juta sudah dikeluarkan
untuk mengantarkan putrinya meraih cita-citanya. Orang Jawa
bilang;’’kepala di jadikan kaki, kaki dijadikan kepada demia masa depan
anak-anaknya’’.
Tetapi, karena dunia kampus begitu keras dan
panas dengan segala persaingan cinta. Maka, nasehat orangtua seringkali
ditinggalkan, bahkan tidak pernah direken sama sekali. Sebab, cinta itu
telah membutakan dirinya. Bahkan semakin hari hubungan dengan lawan
jenisnya semakin akrab, sehingga nyaris membahayakan sebagai seorang
wanita muslimah.
Tidak ada cara lain bagi orangtuanya, kecuali
segera menikahkan keduanya dari pada harus menderita setiap menyaksikan
putri dan lelaki itu selalu berdua kemana-mana tanpa ikatan nikah.
Akhirnya, menikahlah kedua pasangan yang sedang dimabuk asmara itu.
Setelah menikah, keduanya terlihat bahagia, karena kedua merasakan bahwa
pasangannya adalah pilihan tuhan. Memang benar begitu. Tetapi, keduanya
tidak merasa bahwa selama ini telah menyakiti hati kedua orangtua yang
selama ini mengorbankan jiwa dan raga atas kelahirannya serta
menyekolahkan dengan biaya yang cukup mahal.
Setahun kemudian,
sang putri hamil. Ketika melahirkan, terjadi pendarahan yang begitu
hebat. Berbagai cara telah dokter dilakukan untuk menyelamatkan
putrinya. Ternyata darah tetap deras mengalir. Orangtua terus menerus
beristighfar kepada Allah SWT memohonkan ampun kepada Allah SWT atas
kesalahan-kesalahan yang selama ini dilakukan oleh putrinya. Tetapi,
darah itu tetap saja mengalir deras, seolah-olah tidak mau berhenti.
Sang Ibu yang selama ini sering dikecewakan oleh putrinya semasa
menjadi mahasiswa, akhirnya melakukan cara aneh, unik, tergolong nekad.
Karena cara ini tak lazim dilakukan. Betapa terkejut anak dan
menantunya, darah yang mengalir di ambil dan membasuhkan ke mukanya
berkali-kali. Sambil berlinang air mata, ibu itu terus membasuhkan dara
nifas sang putri ke mukanya.
Dengan ijin Allah SWT, tiba-tiba
darah nifas itu berhenti (mampet). Orangtua mau melakuan ini demi
putrinya, sementara sang putri masih belum merasakan kalau dirinya telah
melukai hati sang Ibu salama menjadi mahasiswi.
Lagi-lagi,
keajaiban muncul. Keikhlasan dan ketulusan seorang Ibu di dalam
mengorbankan dirinya tidak ada batasan. Adakah kalimat yang lebih indah
dan pantas untuk diucapkan kepada orangtua?
Ketulusan Ibu dan
ayah mampu menggegerkan penduduk langit. Para malaikat pun mengucapkan
amin, ketika ayah ibu berdoa untuk anak-anaknya. Kemudian, adakah
pengorbanan anak yang lebih besar melebihi pengorbanan ayah bunda?
Salam santun dan keep istiqomah ..
( Astaghfirullah & Semoga Bermanfaat )
Wallahu a'lam bishshawab,
.... Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa'atuubu Ilaik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar