Lantas
bagaimana dengan kita? Termasuk golongan yang mana: tidak yakin,
ragu-ragu, atau yakin? Alternatif dari jawaban itu adalah bahwa kita
harus yakin dengan di-Isra-kan dan di-Mi’raj-kannya Muhammad, sekaligus
meyakinkan kaum peragu bahwa peristiwa ini pun masuk akal, logis, dan
rasional. Sebab, bisa dibuktikan secara empiris dalam ilmu pengetahuan
modern
Bukankah manusia adalah salah satu magnum opus-nya Tuhan
dengan keistimewaan akalnya. Bukankah telah disinyalir Tuhan bahwa
manusia memiliki kemampuan untuk menjelajah seantero jagat raya dengan
kekuasannya (QS.Ar Rahman:33). Bahkan, Al Khazin, Al Baidlawi, dan An
Nasai (Mudhary, 1996:21), memberi tafsiran bahwa arah kata sulthan atau
kekuasanannya ialah ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh kecerdasan
otak lahir dan ilmu pengetahuan yang dihasilkan otak batin. Otak lahir
disebut juga indera badani atau jasmani, sedangkan otak batin disebut
indra rohani. Keduanya dikenal dengan sensus interior dan eksterior.
Hubungan antara tanda-tanda kebenaran di dalam al Quran dan alam raya
dipadukan melalui mukjizat Al Quran dengan mukjizat alam raya yang
menggambarkan kekuasaan Tuhan. Masing-masing mengakui dan membenarkan
keduanya menjadi pelajaran bagi setiap orang yang mau mendengar. Bahkan
Abbas Mahmud Aqqad (dikutip Pasya, 2004:24), memberi penjelasan makna
mukjizat ilmiah dalam al Quran dan Hadits secara lebih mendalam yakni
terdapat dua macam mukjizat yang harus dibedakan: mukjizat yang harus
dicari, dan mukjizat yang memang tidak perlu dicarai.
Sayangnya
pembedaan antara kedua macam mukjizat tersebut hampir tidak kita
temukan pada mereka yang pemikirannya hanya berhenti pada batas
penafsiran ilmiah terhadap fenomena alam. Tidak adanya pembedaan
tersebut kadang menyebabkan pencampuradukkan anatra mukjizat ilmiah
(yang berarti bahwa Al Quran dan Hadits telah terlebih dahulu
memberitahukan kita tentang fakta atau fenomena alam sebelum ditemukan
oleh ilmu empiris) dan penafsiran Al Quran secara ilmiah (yang berarti
mengungkap makna-makan baru ayat Quran atau Hadits sesuai kebenaran
teori sains). Dengan kata lain, sains menjadi perangkat untuk
menafsirkan Al Quran dan Hadits, seperti halnya ilmu bahasa dan asal
usul fikih yang juga menjadi perangkat untuk menafsirkan ayat-ayat Al
Quran di bidang ilmu keagamaan. Nah.
Dengan demikian,
perjalanan Isra Mi’raj yang menjadi fenomena mukjizat Allah tersebut
mampu dikaji secara ilmiah. Pembuktian-pembuktian sains modern telah
menampakan sebuah paradigma bahwa perjalanan Muhammad menjumpai Tuhannya
dengan menembus batas-batas langit adalah benar. Sebab, perjalanan itu
bisa ditafsir ulang dengan sains kekinian, dan dibuktikan secara ilmiah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar