Begitu dahsyat
peristiwa Isra Mi’raj hingga meninggalkan kesan mendalam untuk seluruh
umat manusia hingga kini. Namun, dari tafsiran yang telah dipaparkan di
atas, sekira dengan obat sebagai penawar penyakit, begitu pun hikmah
perjalanan ini sebagai ikhtiar pembangun jiwa-jiwa yang sedang
kebingungan, atau malah ‘mati’ dalam kebingungan.
Siapa pun ia
jika mengira akal adalah Tuhan yang patut disembah, sains adalah Maha
Guru tertinggi yang patut dipuji, maka ia bagai berada dalam dimensi
yang terus memenjaranya untuk tidak menemukan kebenaran hakiki. Sebab,
Kant pernah berkata (dalam avant propos Capra, 2000:xxii), bahwa ia
secara meyakinkan dan sudah membuktikan jika nalar teoritis sama sekali
tak mampu menangkap kebenaran metafisika. Dengan kata lain, sains tak
bisa membuktikan Tuhan ada, juga tidak bisa membuktikan Tuhan tidak ada.
Dengan ini, Kant sebenarnya hendak membatasi ekspansi sains, menyisakan
ruang bagi iman.
Banyak tafsiran yang diutarakan para ulama
terkait berita kontroversial ini. Namun, perlu menjadi catatan bahwa
terlepas dari semua tafsiran: aqidah, sains, bahkan tasawuf sekalipun,
ia ‘menggenjot’ penyemangat jiwa. Sebab Muhammad mampu ‘berlari’ menjadi
hamba yang Insan Kamil untuk melesat menuju Tuhannya. Ia membuka diri
untuk disesuaikan dan direkonstruksi demi menyempurnakan panggilan
spesial Tuhannya.
Bukan saja Muhammad yang bisa ‘berlari menuju
Tuhannya. Anda, saudara, dan kita semua bisa ‘berlari’ mengejar hakikat
kecintaan kepada Tuhan. Hidup terlalu singkat untuk diisi dengan pergi
menuju tuhan dengan cara berjalan lanjut Kang Jalal (2008:69). Kita
harus ‘berlari’ sebelum waktu kita di dunia habis dan berakhir.
‘Berlari’ dari segala yang menarik perhatian kita, menuju kepada yang
satu, Allah. Sebab, “Barangsiapa yang mendekati Allah sesiku, Dia akan
mendekatinya sehasta. Barangsiapa mendekati Allah sambil berjalan, Dia
akan menyambutnya sambil berlari” (HR. Ahmad dan Thabrani). Jika begitu,
bagaimana jika kita menuju-Nya dengan ‘berlari’, seberapa dekatkah Ia
kepada hamba-Nya.
Kenyataan ini menuntun kita pada adanya
evolusi dari hal yang sifatnya material menuju hal yang immaterial.
Membimbing kita untuk Mi’raj atau pendakian menuju tahap demi tahap
hingga sampai ke hakikat kecintaan kepada-Nya. Keberadaan hierarki dan
proses pendakiannya yang merupakan ajaran tarekat yang dicontohkan
Plotinus sebagai tokoh madzhab neoplatonisme (Purwanto, 2008:383).
Menurutnya semua berasal dari Yang Satu atau to Hen dan semuanya
berhasrat untuk kembali kepada Yang Satu. Manusia dapat melaksanakan
pengembalian kepada Yang Satu dengan upaya menempuh tahap demi tahap,
hingga akhirnya mampu ‘berlari’ menembus penyatuan dengan Yang Satu,
atau dalam istilah Plotinus disebut ekstasis.
Overall, maka
bersegeralah ‘berlari’ untuk Mi’raj menuju Tuhan. Sebab Ia telah
berfirman: “Oleh karena itu, bersegeralah berlari kembali menuju Allah”
(QS.Al dzariyat:50). Mi’raj untuk menembus batas-batas kekotoran sifat
manusia, menjemput Cahaya Ke-Tuhanan yang hanya diberikan bagi mereka
yang spesial. Mereka yang berhasil menjadi pengikut Muhammad yang tidah
hanya mengagumi dalam decak kagum tanpa penghayatan, tetapi penghayatan
dalam pengamalan yang ikhlas.
Perjalanan yang ditempuh dari
pecinta menuju yang dicintainya, hingga keadaan ini berada dalam vakum
penyatuan. Cerminan penyatuan itu tertuang dalam sebuah hadits qudsi:
“Tidak henti-hentinya hamba-hamba-Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan
melakukan ibadah-ibadah nawafil, hingga Aku mencintainya. Kalau Aku
telah mencintainya, Aku akan menjadi telinganya yang dengannya ia
mendengar; Aku akan menjadi matanya yang dengannya ia melihat; Aku akan
menjadi tangannya yang dengannya ia memegang; Aku akan menjadi kakinya
yang dengannya ia berjalan. Jika ia bermohon kepada-Ku, Aku akan
mengabulkan permohonannya. Jika ia berlindung kepada-Ku, Aku akan
melindungi dirinya” (HR. Bukhari).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar