BERLARI’ SECEPAT NABI MUHAMMAD SAW : Menembus Batas Langit Perjalanan Isra Mi’raj..
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim .. Ilmuwan terkemuka Sinka mengatakan:
siapa pun yang melayangkan pendangannya ke arah langit pasti akan
memejamkan kedua matanya dengan penuh
kekaguman dan katakjuban. Sebab ia melihat jutaan bintang yang bersinar
terang, mengamati pergerakannya di garis orbitnya, dan beralih
memandangi rasi-rasinya. Masing-masing bintang, planet, nebul, dan
satelit adalah dunia yang berdiri sendiri, dan jauh lebih besar daripada
bumi beserta segala yang ada diantaranya dan yang melingkupinya (Ahmad,
2006:42).
Bayangkan, jika kita sedang menengadah ke langit di
malam hari, kita melihat sinar bulan yang begitu indah. Nah, sinar bulan
yang kita lihat itu membutuhkan waktu untuk menempuh jarak dari bulan
ke bumi sekira 350.000 kilometer. Karena kecepatan cahaya sekitar
300.000 meter per detik, maka cahaya bulan itu membutuhkan waktu lebih
dari satu detik untuk sampai ke bumi. Artinya, ketika kita melihat
bulan, sebenarnya bulan yang kita lihat itu bukanlah bulan pada saat
yang sama. Sebab, bulan membutuhkan waktu selama satu detik untuk
mencapai bumi. Paling tidak, bulan yang kita lihat saat ini adalah bulan
satu detik yang lalu.
Hal itu juga terjadi ketika kita melihat
matahari. Karena jarak Matahari – Bumi yang demikian jauhnya sekitar
150 juta kilometer, maka kecepatan cahaya membutuhkan waktu 8 menit
untuk sampai ke bumi. Artinya, jika waktu itu kita melihat matahari,
maka matahari yang kita lihat itu sebenarnya bukalah matahari pada saat
itu, melainkan matahari 8 menit yang lalu (Mustofa, 2006:71).
Kenaehan dan keterkaguman kita akan semakin bertambah, manakala kita
menyaksikan benda-benda langit yang lain, bintang umpamanya. Malah ada
bintang yang berjarak sangat jauh dari bumi hingga memakan waktu 8 tahun
cahaya dari bumi. Maka jika kita melihat bintang itu, sebenarnya kita
sedang menyaksikan bintang yang usianya 8 tahun lalu. Mengagumkan.
Bahkan, dalam abad kekinian, sering juga kita dengar istilah satelit
atau sputnik, yaitu kendaraan ruang angkasa yang diluncurkan menuju
bulan dan planetnya di dalam kelompok matahari. Persitiwa satelit atau
sputnik itu merupakan hasil kecerdasan otak manusia sekaligus merupakan
alat terpenting dalam mencapai kemajuan lahir ke arah pengetahuan dan
teknologi.
Lalu, pada abad ke-7 atau sekitar 1400 tahun silam,
kita juga mendengar suatu peristiwa maha hebat dari tanah Arab.
Persitiwa itu jauh lebih mengagumkan dari satelit ataupun sputik dan
benda-benda langit lainnya. Peristiwa itu dinamakan Isra Mi’raj Nabi
Muhammad saw. Muhammad tidak saja menembus ruang angkasa di sekitar
bulan, bahkan sudah meluncur ke ufuk yang tertinggi , melalui sistem
planet, menerobos ruang langit yang luas, berlanjut terus ke gugusan
Bintang Bima Sakti, meningkat kemudian mengarungi Semesta Alam hingga
sampai di ruang yang dibatasi oleh ruang yang tak terbatas. Kemudian
sampailah Rasulullah Muhammad saw pada Ruang yang Mutlak yang dinamakan
“Maha Ruang”. Inilah yang disebut “Dan dia Muhammad di ufuk yang
tertinggi” (Mudhary, 1996:21).
Peristiwa luar biasa ini kontan
membuat kontroversi di masyarakat. Ada masyarakat yang mencemooh;
kebanyakan dari mereka orang kafir. Mereka menggemboskan isu bahwa
Muhammad telah gila. Kelompok kedua adalah mereka yang ragu-ragu. Mereka
terbawa oleh suasana kontradiksi, mau percaya kok rasanya berita itu
tidak masuk akal. Tapi ngga percaya, kan Muhammad tidak pernah
berbohong. Kelompok ketiga adalah mereka yang begitu yakin akan
ke-Rasulan Muhammad. Perjalanan yang kontroversial ini pun bagi mereka
justru meningkatkan kayakinannya bahwa beliau benar-benar utusan Allah.
Lantas bagaim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar